Saturday, January 11, 2014

Liburan di desa untuk kontol

Liburan kemarin adalah yang paling mengesankan sepanjang umur hidupku.
Aku diutus keluargaku mengunjungi kakek di salah satu kota kecil di Jawa
tengah. Sementara keluargaku pergi ke Palembang untuk bersilaturahmi
dengan keluarga Ayah di sana. Ayah sangat otoriter sehingga ibu pun
tidak bisa bertemu dengan ayahnya dan hanya mengutusku.

Aku anak tunggal dan sebenarnya ibu tidak rela melepasku sendirian ke
tempat kakek. Meskipun umurku sudah hampir menginjak kepala 2 tapi
terkadang ibu masih mengkhawatirkanku seperti anak SD saja. Berbeda
dengan ayahku yang cukup keras kepadaku dan mendorongku supaya lebih
mandiri. Dua sifat berbeda ini sering menjadi pertentangan bagi mereka.

Aku tahu mereka orang yang sangat menyayangiku. Sayang dengan cara yang
berbeda, bahkan bertolak belakang. Terkadang aku merasa Ayah terlampau
kejam terhadapku, namun di balik itu semua aku juga merasakan manfaat
yang tak ternilai. Aku jadi lebih berani dan lebih jantan dan tidak
manja. Andai tak ada Ayah mungkin aku sudah ikut kelompok banci dan
dandan seperti mereka. Untung saja Ayah menyelamatkanku. Dalam diriku
aku memiliki ketegasan dan keberanian Ayah dan juga kelembutan dan
keromantisan dari ibu.

Kembali ke kakek. Beliau memang sudah cukup umur dan tidak sesehat
sewaktu muda. Kakek tiggal bersama Pak lik Danu, adik bungsu yang
sekarang belum juga berkeluarga. Umurnya sudah tigapuluhan dan bila
didesak dia akan bilang belum bertemu jodoh. Kami cukup akrab sebab
semasa sekolah SMA dia ikut keluarga kami. Orangnya baik dan suka
'ngemong' istilah jawanya (mengayomi/melindungi).

Kembali lagi ke kakek. Pernah ibu dan ayah untuk menawari tinggal
bersama kami , namun dia tidak mau karena banyak alasan. Yang kebunnya
tidak terurus, yang Pak Lik sendirian, yang nanti rumah berantakan dan
lain lain. Intinya beliau tetap ingin hidup di desa. Nenek sudah lama
almarhum.

***

"Ya sudah sana Rob kalau kamu mau istirahat dahulu", bola matanya
melirik ke kamar yang sudah disiapkan bagiku. Aku sampai jam 3 pagi dan
sempat menunggu 2 jam untuk angkutan pedesaan pertama.

"Nanti saja lik, saya mau mandi saja dahulu", memang rasa keringat
semalam belum hilang. Belum bau rokok dan bau keringat yang mengering.

"Ya sudah sana siapkan bajunya. Nanti Pak lik yang timbakan airnya"

"Nggak usah lah! Nanti saya timba sendiri", kataku sungkan.

Aku masuk ke kamar untuk meletakkan ransel sekaligus mengambil handuk
dan pakaian ganti. Tak lupa juga mengecas hape yang batrenya sudah mati.

Sesampai di kamar mandi aku kaget karena ternyata bak sudah penuh dengan
air yang masih bergoyang-goyang tanda baru saja diisi. Airnya bening dan
pasti segar sekali. Sementara Pak Lik sudah tidak kelihatan kemana.

Segera kututup pintu kamar mandi sederhana itu.Atapnya dari seng plastik
sehingga tampak terang sekali. Kubuka kaus hitamku, terasa hembusan
angin dingin segar menerpaku. Dalam sekejap aku telah bertelanjang. Ah,
kontolku terlihat menyusut entah karena kepanasan atau karena celana
dalamku terlalu ketat. Di celana dalamku terlihat sedikit bekas mazi
hasil lamunanku di bis semalam.

Air segar pegunungan segera kusiram ke seluruh tubuhku. Ahhh segar
sekali. Kububuhkan sabun cair pria yang mengandung mint. Hmmm sangat
segar dan maskulin baunya. Sensasi kesegarannya mengembalikan semangat
lesu karena kelelahan.

Saat dua siraman untuk membersihkan sabun, kudengar suara kayu patah
cukup keras. Krak dan suara orang mengaduh di tahan. Kutajamkan
telingaku. Sepertinya ada orang berlari menjauh dari kamar mandi. Segera
kubuka pintu, ingin tahu siapa yang telah mengintip. Ada seorang anak
sebaya denganku berjalan cepat menjauh. Dia menggunakan celana pendek.
Sinting! Ternyata di desa ini ada homo suka mengintip.

Kuselesaikan mandiku dengan cepat dan segera menuju ke dalam rumah.

"Kamu sahur tadi pagi kan?" tanya kakek.

"Alhamdulillah kek, tadi pagi ada warung dekat terminal yang buka."

"Syukurlah kalau begitu kamu puasa kan?"

" Ten.. tentu dong kek. Saya kan sudah dewasa." Kakek teringat dua tahun
lalu aku ketahuan tidak puasa oleh kakek.

***

Setelah tidur sampai jam 9.30, aku mencoba mengisi aktifitas hari ini
dengan berjalan-jalan ke dekat danau kecil sana. Danau itu luasnya tak
lebih besar dari danau Sunter di Jakarta sana. Ada satu tempat cerukan
danau yang cukup asri . Di sana banyak pemuda sering berenang kalau sore
atau siang kala bulan puasa seperti saat ini.

Aku berjalan ke sana. Kalau cukup sepi aku ingin berendam. Sekedar
menenangkan diri dan berekreasi. Danau kelihatan tenang dan bening. Di
cerukan itu memang ada satu mata air yang tak pernah kering. Banyak
penduduk desa yang belum mampu 'nyelang' mengambil air secara langsung
di sendang itu.

Benar saja dugaanku, jalan setapak di kerubungi oleh karpet rumput hijau
dengan beberapa pohon rindang di dekatnya. Cerukan itu cukup aman meski
untuk mandi telanjang bulat. Aku melihat keadaan dan menunggu keadaan
benar-benar aman sambil menikmati surga kecil itu sebentar.

Ternyata keadaan cukup aman. Aku memutuskan membuka semua pakaianku dan
berendam telanjang di salah satu tempat yang cukup dalam. Ahhh nyaman
sekali. Udara yang bersih dan hangatnya sinar matahari. Kolam yang
bening dengan beberapa ikan air tawar berkeliaran di dasar dekat
bebatuan bulat-bulat.

Kudengar krasak-krusuk agak kasar. Lalu kecipak air. Hei! ada pengunjung
lain yang berendam juga... Ya, seorang pemuda seusiaku. Kami bertukar
senyum dan saling menyapa sekadar seperti adat desa umumnya. Namanya
Heru, hmm tubuhnya lumayan kekar dan hitam. Sempat kulirik bagian
bawahnya, masih tidur tapi ah ukurannya lebih besar dariku. Tapi aku
tidak mau berpikiran lebih jauh, takut jadi tegang dan membatalkan puasa.

Di akhir percakapan Heru mengajakku bertaraweh bersama. Dia berjanji
menjemputku nanti. Ah orang yang baik hati.

***

Pertemananku dengan Heru bertambah akrab. Lebaran kedua pagi ini kami
berencana pergi ke air terjun yang jarang dikunjungi karena jauh dan
susahnya perjalanan. Ya, daerah itu tidak terkenal. Tetapi menurut Heru
indahnya tidak kalah dengan air terjun lain yang terkenal secara
nasional. Nama air terjunnya adalah Curug Sewu Banyu.

Banyak fakta yang aku ketahui tentang Heru. Kami bahkan sangat terbuka,
Heru mengatakan kalau dia suka pria dan pernah ml dengan seseorang. Oh
ya ada satu hal, Heru sering mengintip Lik Danu. Waktu kedatanganku,
Heru hendak mengintip Lik Danu tapi dia kaget ketika diintip ternyata
orang lain. Lalu dia terpeleset. Heru pernah bilang kalau suka melihat
aku telanjang. Tapi aku ragu kalau aku akan ml dengan dia. Ah, pembaca
pasti mengerti keraguanku.

Curug Sewu Banyu ditempuh dua jam berjalan kaki. Menurut Heru jalan
setapak lebih sepi dari biasa. Orang-orang desa tidak ke ladang dan
kebanyakan berwisata ke kota atau ke tempat handai taulan di desa lain.
Curug Sewu Banyu sendiri terletak jauh dari lokasi pemukiman desa.
Bahkan ladang pertanian pun tiada di dekat Curug. Keadaannya begitu perawan.

Wow .. wow... wow... wow begitu berkali-kali aku terkagum. Air terjun
itu alami dan sangat indah. Hampir mirip dengan wallpaper yang kupasang
di monitorku. Tapi ini asli dan indah. Airnya banyak bahkan di tengah
musim kemarau begini. Mungkin karena penggundulan hutan belum merambah
mata airnya. Limpasan airnya membentuk butir-butir embun yang membiaskan
warna-warna pelangi. Mungkin inilah tempat mandi bidadari dalam kisah
Jaka Tarub.

Tanpa malu lagi Heru menelanjangi dirinya dan berlari mendekat ke air
terjun. Suasananya jadi asri. Rasanya segar. Aku ikut menelanjangi diri
dan bergabung dengan Heru berdiri dekat-dekat jarum-jarum air yang jatuh
dari atas. Kolam di kaki kami hanya sedalam paha tidak bisa untuk
menyembunyikan kontol kami. Tapi kami tidak berpikir ke sana. Kami
membiarkan semuanya seperti wajarnya. Heru menyipratkan air segar itu ke
tubuhku yang sudah basah. Aku membalasnya. Rasa riang menyelubungi kami.
Kami tertawa terbahak dengan gembira. Kami bebas tanpa ada kehadiran
orang lain satupun di situ.

Rasa janggal dimulai saat aku membenamkan diriku. Entah kenapa tiba-tiba
kontolku menegang tanpa terkendali. Sh*t! Aku merasa tidak enak hati
pada Heru. Namun justru sebaliknya Heru menangkap kejanggalan yang
semakin nyata ini dan kami terdiam. Heru mendekatiku. Mataku tak bisa
kutahan untuk tidak melirik bagian kemaluan Heru. Sh*t! milik Heru sudah
mulai membesar.

"Her!..." kutahan dadanya supaya tubuhnya tidak lebih mendekat. Mata
Heru tajam membuka kunci hatiku. Mulut Heru diam terkatup tapi matanya
bicara banyak, 'Biarkanku memuaskanmu. Aku suka kamu. Aku ingin
mencurahkan sayangku dan nafsuku ini untukmu'. Tatapan itu... membuat
tangan yang menahan dada Heru berubah menarik punggung Heru untuk
mendekat. Kami melakukan ciuman bibir yang sangat lama di bawah Curug
Sewu Banyu. Momen ter*** (tak terdefinisi) selama aku hidup.

Sebentar saja tubuh depan kami sudah saling melekat. Merasakan hangatnya
tubuh yang bersatu. Ya, masih di tengah desau air terjun Curug Sewu
Banyu hanya kami berdua. Tangan bergerayang memijat punggung Heru yang
kekar. Sementara Heru memelukku kencang sampai nafasku terasa sesak.

Aku masih ingat desah nafas kami. Pandangan kami. Seakan kami saling
mencurah jiwa kami supaya dimengerti. Hasrat kami supaya dipuaskan.
Segala keinginan kami untuk ditanggapi. Dengan ciuman yang panjang,
elusan dan gesekan kontol, kami merasa semuanya lengkap. Kami saling
mengerti, memahami, menerima, dan mampu melengkapi yang kurang pada
kami. Ini bukan sekedar memuaskan nafsu sex tapi lebih jauh dari itu.

Tubuh bagian belakangku terasa dingin. Heru mengamitku untuk ke pinggir.
Ah.. tapi saat kulirik kemaluan Heru masih merah berdenyut ke atas.
Tanda dia masih ingin. Kontolku pun begitu. Kami berjalan beriring
melompat bebatuan ke pinggir sungai. Dekat pakaian kami ada satu tempat
yang landai dinaungi sebuah pohon besar yang tak kuketahui namanya.

Heru menghamparkan tikar dari dalam ranselnya. "Hei! Kamu sudah
merencanakan ini semua ya?" tanyaku.

"Ah tidak juga. Hanya sekedar jaga-jaga." Heru tersenyum maniss sekali.

Dia mengerinkan tubuhnya dengan kibasan lalu berbaring di tikar. Aku
melongo.

"Ayo kemarilah!" ajaknya.

Aku ragu, tapi tak tahan melihat Heru yang memainkan kontolnya sendiri
memancingku. Aku duduk di sebelahnya. Heru menarik tanganku supaya
menggenggam kontolnya. Segera akupun mulai mengocok kontol Heru. Ahhh!
Heru melenguh keenakan. Matanya terpejam saat kupandang.

Tanpa mempedulikan bagaimana tanggapan Heru, kuhisap kontol itu. Ahh ini
rasanya menghisap kontol pria seperti di film-film biru yang kadang
kutonton. Ada rasa hangat, kulit bergelambiran, rasa yang aneh. Ah
kalian yang belum pernah, coba rasain sendiri deh! Kuhisap kontol itu,
kulirik kepala Heru yang dilempar ke kanan dan ke kiri. Tangannya
mencoba menahan kepalaku supaya tidak menghisap. Tubuh Heru bergetar.
Pantatnya ikut terangkat mungkin karena keenakan.

Tangan kananku yang menggerayang di dada Heru dipegang erat sehingga tak
bergerak. Tangan kiriku terjepit di antara selakangan saat kurangsang
lubang pantatnya. Satu-satunya jalan melepas keduanya adalah hisapan
agak longgar dengan cepat. Slurrp! jlep! Sluurp jlep! begitu kira-kira
bunyi yang membuat seluruh tubuh Heru kehilangan koordinasi. Tanganku
bebas menjelajah lagi. Namun sejenak kemudian dia tersadar dan mulai
bertahan lagi. Kulakukan oral lagi. Heru terlena. Saat jariku ke
pantatnya dia tersadar dan bertahan lagi. Kejadian itu berlangsung
berkali kali. Hingga akhirnya Heru mengerti dan membiarkan jariku
menembus lobang pantatnya.

Heru pasrah menikmati tiap hisapan mulutku. Bibirnya digigit sendiri
menahan nikmat birahi. Jemari kananku memainkan puting dan terkadang
meremas dadanya. Jemari kiriku sibuk merangsang lubang dubur dan titik g
spot di bawah bola-bola kemaluan. Setelah Heru mampu menyesuaikan diri
dengan birahinya, dia juga tak mau kalah mengonani kontolku yang bebas
tegang.

Sekarang ganti aku terkadang harus berhenti menghisap untuk
mengendalikan birahi. Remasan dan kocokan Heru begitu pas, seperti
mengocok sendiri saja. Terkadang tangan kiri Heru berhenti mengocok
untuk memberi kesempatan pada ibu jarinya memutar-mutar titik pertemuan
kepala dan batang kontol. Rasanya hmmm...

Setelah pipiku terasa agak pegal dan bibirku baal karena terus menerus
mengisap, aku memberanikan diri berganti posisi menindih Heru. Kontol
kami berdua kugenggam erat. Sebetulnya tak terlalu erat karena tak muat
pada satu genggaman tangan. Kukocok kontol kami sambil kumaju mundurkan
pantatku. Posisi tak stabil tapi sepertinya Heru senang karena dia
tersenyum dan merengkuh tubuhku lebih mendekat ketubuhnya.

Kelamaan kontol Heru yang semula licin mulai mengering karena hembusan
angin dan panas tubuh kami berdua. Sekarang gantian keringat di badan
Heru dan badanku melicinkan badan kami. Kubiarkan kontol Heru menggosok
perutku dan kontolku menggosok perut Heru. Licin dan hangat rasanya. Ada
getaran-getaran enak di kepala kontolku. Tiap gesekan menghasilkan satu
getaran sehingga tak ingin rasanya mengakhiri.

"Mau yang lebih enak Rob?" tanya Heru tiba-tiba.

"Apa?"

Heru mendorong tubuhku supaya ke pinggir. Dia sendiri lalu menungging.

"Ayo.." Heru mempersilahkan.

Aku mengerti lalu aku mendekatkan kontolku ke lubang duburnya. Aku
mencoba memasukkannya. Terus terang ini pertama kali aku main anal.
Biasanya paling cuma saling menggesek saja. Ah, ternyata tidak semudah
tayangan di film biru. Lubang itu terasa keras dan sepertinya tidak
mungkin dimasuki, apalagi oleh kontolku. Wajah Heru pun tampak kesakitan
saat aku mencoba menembus lobang berkerut itu.

"Tak usahlah Her..." aku merasa kasihan.

"Ayo coba terus, nanti pasti bisa." Heru memberi semangat.

Aku mencoba lagi. Memang tidak mudah. Kontolku kuludahi seperti di
beberapa cerita yang pernah kubaca. Ujung kepala kontolku tepat
kuletakkan di bagian pusat lubang lalu kutekan dengan perlahan. Heru
menjerit tertahan. Kontolku pun terasa agak sakit terjepit. Aku berhenti
sebentar untuk menahan sakitku. Lalu kulanjut lagi. Yah, paling tidak
sekarang sudah separuh masuk. Masih menurut beberapa cerita, aku harus
berhenti sebentar supaya lubang dubur Heru agak terbiasa.

Menyenangkan melihat punggung Heru yang memerah tercetak pola tikar.
Keringat yang mengkilat di tengguknya. Bisep dan trisepnya yang nampak
seksi karena posisi menunggingnya. Juga pantatnya yang berisi penuh
sedang di tengahnya ada kontolku yang sudah masuk separuh.

Kutarik kontolku sedikit supaya tidak lepas dari lubang sempit itu. Waaa
hh rasanya ... kumasukkan lagi, wuaahhh dua kali ahh! Kutarik lagi enak
sekali rasanya.. kumasukkan lagi, dua kali enak sekali. Semakin sering
semakin enak dan dalam waktu singkat rasanya mau orgasme. Rojokanku
semakin cepat, Heru tampaknya sudah mulai menikmati. Sekarang bukan lagi
separuh yang masuk melainkan sudah hampir semua. Aku senang dengan
bentuk kontolku sendiri saat ditarik keluar dari pantat Heru. Tampak
mengkilat dan kencang sedikit berurat.

"Her.. aku hampir nihh" kataku sedikit bergetar.

Heru tak menjawab. Dia menikmati setiap hempasan kontolku dalam duburnya.

"Her.. sekar....ahhhhh" tak sempat aku menyelesaikan pemberitahuanku.
Maniku menyemprot kencang ke dalam perutnya. Kupeluk punggung Heru erat
untuk menumpahkan segala kenikmatanku. Hampir semenit aku memeluknya.
Lalu tangan kananku meraba bagian kontol Heru... Loh kontolnya sudah
menyusut, ada cairan kental di ujungnya.

"Kau... kapan?" sambil tanganku sedikit mengocok kontolnya.

Heru merebah ke samping. Aku pun tetap menempel di punggungnya. Kontolku
masih di dalam dubur Heru. Kepalanya menengok ke kepalaku. Dia tersenyum
lalu menggigit lemah bibirku.

"Aku suka sekali sama kamu" senyumnya manis sekali.

Kami menyudahi permainan itu dengan mandi bersama di Curug Sewu Banyu
sekali lagi. Kami mandi telanjang di bawah air terjun. Terkadang di
selingi ciuman dan rangkulan. Tapi kami tidak melakukannya lagi.

***

Selesai.

Wednesday, October 23, 2013

Diperkosa Teman kontol

Hidup ini kadang sungguh tidak adil , mengapa aku diciptakan?, mengapa
aku dilahirkan kalau aku akhirnya mengingkari kodrat yang telah engkau
berikan padaku,
Aku tak tahu kapan semua ini terjadi padaku,aku sungguh ingin berubah
tapi semakin aku mencoba melawan ,rasa itu semakin besar padanya ,dan
mungkinkah aku menjadi seperti ini selamanya,atau aku bisa berubah dan
berkata ,semakin aku mencintaimu semakin aku harus melepasmu dari
kehidupanku
Dan dari sinillah kisah cintaku bersamanya bermulai:


Hari ini sekolahku pulang agak pagi karena bapak dan ibu guru melakukan
rapat di kantor dinas pendidikan ,aku merasa sangat senang sekali karena
hari ini aku pulang agak pagi ,namaku Rian umurku 18 tahun anak anak
smak di sekolah katolik ,tubuhku termasuk tubuh seorang cowok yang
atletis dengan badan sixspack diikuti kulit putih dan rambut pirangku
membuat para gadis menjadi tergila gila padaku ,namun apa dayaku aku
sama sekali tidak bisa menyukai mereka sama sekali ,bukan karena mereka
itu jelek melainkan karena aku sama sekali tidak tertarik sedikitpun
dengan kaum perempuan,aku sungguh tak mengerti mengapa semua ini terjadi
padaku ,sampai kelas 3 sma aku belum pernah mengalami apa yang dinamakan
pacaran ,bahkan teman temanku sering berkata padaku kalau aku itu tolol
,mengapa ? karena aku sudah ganteng,tinggi 170 lebih ,kaya dan pintar
sampai sekarang belum memiliki seorang cewek sekalipun,aku hanya focus
ke basket basket dan basket ,karena aku merupakan kapten dari team
basket yang ada disekolahku,namun semua itu sama sekali tak membuatku
minder ,aku terlanjur terlalu cuek dan tidak peduli sama sekali dengan
semua kata kata mereka,bagiku mereka semua terlalu iri dengan keadaanku
saat ini ,dan itulahyang terjadi.
Aku mempunyai 5 sahabat yang sangat pengertian dan perhatian padaku
,sehingga aku memberi nilai lebih kepada mereka dibandingkan dengan
teman temanku yang lain.Dia ialah Rio orang yang sama memiliki wajah
tampan namun masih dibawahku,Roby orang yang memberi motivasi
padaku,Wendi orang yang setia menemaniku disaat aku membutuhkanya ,dan
sueng dan Dian orang yang sangat gokil dengan kekayaan dan kepintaranya
"yan kita renang yuk aku udah lama banget pingin renang nih " kata Wendi
"ide yang bagus ,aku juga BT kalau pagi gini udah langsung kerumah"
"tapi lok kita berlima aja kagak seru ,aku,dian sueng ,dan robi bawa
pacar kami juga ya,loe gimana rio ,yan?"
"gue gak punya pacar euyyyyyyyy"kata rio
"gue juga gak punya pacar , udah lah terserah kalian,kalian bawa mobil
kalian masing masing yaw "
"mobil gue gy di bawa bokap ke kantor yan gue ma loe ya ,gue kan friend lo"
"dasar…… ya udah aku ganti baju dulu ke rumah n bawa persiapanya u
langsung ikut gue pa ntik q jemput yo?"kataku
"q ikut kamu aja yan dirumah sepi Cuma ada pembantu"
"yau dah, mari kita berangkat tunggu q disana ya temen temen"
Aku pun segera menuju parkiran sekolahku dan langsung ambil mobil
Rio ternyata sudah menunggu di gerbang sendirian ,dan setelah aku sampai
ke mobil langsung saja kami berangkat ke rumahku dulu….
15 menit kemudian kami nyampe rumahku disana pak tarno selaku satpan
rumahku langsung membukakan pintu dan menyuruhku masuk ,aku dan rio
langsung memasuki rumahku yang relative agak besar dibanding rumah
temanku yang lain.
Rio melihat sekeliling ,melihat foto fotoku ketika masih kecil,melihat
koleksi film ku ,dan tanpa sengaja rio menemukan koleksi bokep pribadi
milikku dan langsung memanggilku
"Ysatpan rumahku langsung membukakan pintu dan menyuruhku masuk ,aku dan
rio langsung memasuki rumahku yang relative agak besar disbanding rumah
temanku yang lain
Rio melihat sekeliling ,melihat foto fotoku ketika masih kecil,melihat
koleksi film ku ,dan tanpa sengaja rio menemukan koleksi bokep pribadi
milikku dan langsung memanggilku
"Yan rumah kamu sepi banget ,dan u punya koleksi bokep lagi enak nih lok
ma pacar u kelak mbokep disini "
"ya beginilah rumahku yo agak sepi ,semua kan kerja ,jadi aku sendirian
disini"kataku sambil menutup pintu kulkas karena q baru aja ngambil minum
"gue mau ke kamar u donk " kata rio sedikit memaksa
"gue kan mau ganti yo"
"sama cowoknya juga ,q juga mo pinjem baju kamu ya ,masak pakai seragam
gini bisa di omelin satpol PP nih"
"q gak biasa gantu ma cowok yo soalnya " kataku berusaha menolak
"alah udahlah jangan banyak bicara"
Kami pun segera masuk kamar ,dan aku tak tahu apa motif rio tiba tiba
aja dia mengunci pintu kamarku,aku sempat kaget namun dengan lekas aku
udah tenang kembali.
Aku pun dengan sedikit melu segera membuka kaos seragam putih abu abuku
dan celananya juga
Kini aku hanya mengenakan boxer biru yang agak ketat dan mungkin
kontolku bakal kelihatan menonjol jika kontolku ngaceng
Aku mlihat kearah Rio sesuatu yang berbeda terjadi padanya ,ia
memandangiku tajam ,pandanganya terasa lain bukan memandang layaknya
cowok biasa memandang temanya ganti , melainkan pandangan penuh nafsu
yang menggelora dari anak se usia sma sepertiku
"yan….."kata rio sambil berusaha menelan ludahnya dengan menatapku tajam
"kenapa, kenapa loe ngeliatin gue gitu "
"yan badan kamu sexy banget kalau tidak memakai seragam ,sungguh
terlihat kotak kotak dan menarik sekali yan,apalagi kalau kamu…….."kata
rio tak melanjutkan
Entah kenapa aku merasa takut dengan pandangan rio seperti itu apalagi
setelah ia bilang ia tertarik padaku itu sangat membuatku takut,
"loe kenapa sih yo ,suer loe buat aku takuut tau "
"yan aku mau Tanya boleh kagak "
"boleh kenapa ndak Tanya aja ,"kataku berusaha berpikiran positif
"loe pernah ngocok belum yan "
"apa ……!"aku sungguh kaget dengan pertanyaan rio
"coli ngocok yan onani pernah apa gak "
"loe ngapain Tanya begitu"
"yan sepertinya gue nafsu liat kamu telanjang yan kita ngocok bareng yuk
yan"
Aku sungguh bener bener seperti terkena petir tak menyangka dengan apa
yang aku dengar ternyata orang yang selama ini ku percaya adalah seorang
Gay.Astaga !!!
"yo gue kebawah dulu yaw gue mau ambil minum gue haus lagi nih"kataku
cepat dan ingin segera meninggalkan kamarku jauh jauh
Namun ia bukanya mengijinkan ku ia malah tiba tiba mendorongku ke
kasurnya ,karena badan ia lebih besar sedikit di banding q aku jadi
terjatuh "mati gue " pikirku secara tiba tiba
Gue pun langsung mendorong rio hingga jatuh ,aku pun segera memukul muka
rio dengan sekuat tenaga ,
Rio pun juga membalas pukulanku dengan mengayunkan bogemnya tepat di
perutku
Aku pun terjatuh karena tak kuat menahan rasa sakit
Rio mendekatiku perlahan
Perlahan ia menyingkirkan tanganku dari perutku yang aku pegang karena
sakit dan aku menatapnya tajam ,ia tersenyum dan perlahan menidurkanku
,entah apa yang terjadi aku merasa terkena hipnotis ,aku tak bisa
melawanya ,entah kenapa itu terjadi
Kini aku telah tidur di kasurku
Rio pun segera melepaskkan perlahan kaos yang aku pakai,dan menurunkan
boxer yang aku pakai ,aku pun hanya menurut,kini aku dalam keadaan
telanjang bulat ,tanpa sehelai kain pun ia tersenyum kepadaku dan
perlahan ia membuka seragam yang ia pakai dan Tshirt yang ia pakai dan
juga celananya
Kini ia juga dalam keadaan telanjang bulat dengan kontol yang hitam dan
agak besar mulai mengacung untuk segera dihisap oleh seseorang
Ia pun meniduriku ,aku merasa badanku setelah ditindihnya begitu hangat
aku pun lemas ,lalu dengan santai ia mendekatkan mukanya ke
mukaku,perlahan mulutnya menyerang bibirku,ia mencium mulutku dengan
ganas ,ia membuka mulutnya dan berusaha memasukkan lidahnya ke mulutku
,aku pun demikian ,inilah ciuman pertamaku dengan manusia selain orang
tuaku,sungguh hangat dan nyaman
Aku terus diserang dengan ciuman itu ia semakin melumat lidahku
dihisapnya air ludah dari lidahku ,tak mau ketinggalan aku juga melumat
bibirnya ,ia semakin nafsu kepadaku ia pun melepas ciumanya
Kini ia menciumi leherku ,rasanya nikmat sekali bagai menerima
kehangatan sendiri,leherku dicumnya dan di jilat sesekali sambil
memberikan sedikit hisapan di leherku ,aku pun menghela nafas kenikmatan
Ia semakin turun ke putingku lidahnya dengan sakti mempermainkan pucuk
putingku ,aku merasa geli geli kenilmatan ia turun lagi ke perutku namun
tanganya dengan cepat mempermainkan putingku,aku merasa sangat nikmat
sekali air ludahnya sudah membasahi putingku rasanya sungguh terbang
seperti mimpi
"Rio enak yo terus yo"
Kini kontolku mulai ngaceng dan mulai tegang ,ukuranya kurang lebih
sudah 15 cm an ,rio pun semakin berambisi ia menurunkan lagi ciumanya
yang kini tepat di bagian kontolku
Rio segera menjilat kontolku owhhhhhhhhhhh anjing rasanya nikmat sekali
,ia langsung memegang kontolku dan langsung menghisapnya ,mulutnya ia
buka dan kontolku pun dimasukkan ke mulutnya …. Owhhhhhhhhhh yeahhhh
iamenghisap maju mundur maju mundur
Aku terasa semakin kenikmatan…….owhhhhhhh yeahhhhhhhh terus isepin
yoooooo isep terussss,ia mempercepat menyedot kontolku kontolku di masuk
keluarkan dari mulutnya ,sesekali ia pun mempermainkan ujung kontolku
yang masih merah ,owhhhhhhhh yeahhhh
Clupppppppp….cluppppppppppp.cluoooooooooooop]
Yeahhhhhhhh enak yooooo aku pun semakin memanas, apa lagi ketika tangan
rio yang kiri mempermainkan putingkan dan yang kanan memegang kontolku
untuk di hisep di mulutnya ,kontolku pun mulai bergetar setelah 5
menitan owhhhhhh
Yeahhhhhhhh yo enak yooo kau temanku yang berharga
Tangan kirinya sesekali mencubit pentil atau putingku sehingga aku
sesekali merintih kesakitan dan kenikmatan ,owh yeaahhhhhh ria pun
setelah mengetahui kontolku semakin bergetar karena pejuhku mau keluar
,segera mempercepat hisapanya dan menyedotnya dengan nikmat dan owhhhh]
Yeahhhhhhhhh
Crottttttttttttttttttt]
Crot
Crottttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt
Pejuh itu keluar dari kontolku ,rio pun menghisapnya dan
menelanya,tubuhku menggeliat menerima luncuran pejuhku tadi ohhhhhhh
Enak yooooooo
Enak yyyyyyyyyyyyooooooooooooo
Aku pun sekarang berdiri demian pula rio,lalu aku perlahan menyuruh rio
untuk tidur,rio pun sekarang gentian aku tindih ,aku menempel di tubuh
riooooooooo ,rio pun menggesek gesek kan kontolnya ke kontolku yang
penuh akan pejuhhhhhh lalu aku mencium kembali mulut rio
Mulut rio yang masih ada sedikit pejuh dariku langsung saja aku jilat
sehingga pejuh itu masuk ke mulutku
Rasanya asin asin gimana begitu ……
Aku pun berdiri dan ,rio pun serasa dapat code ,ia kini tengkurap dan
pantatnya sedikit di naikkan ke atas aku pun menghusap kontolku
Dan dengan perlahan aku dengan tanganku memassukkan kontolku ke pantat Rio
Rio pun menjerit karena merasa kesakitan
Ohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh,awwwwwwwwwwwww,
Jeritanya pun semakin keras tat kala aku mulai memassukkan sedikit demi
sedikit kontolku ke pantatnya
Owhhhhhhhhhh sakit yan owhhhhhhh
Sku pun mrmsdukksn kontolku perlahan hingga akhirnya kontolku masuk
semuanya
Owhhhhhhhhhh blessssss
Aku lalu menyodokkan kontolku pelan pelan owh yeahhh
Mmmmmmmmm uhmmmmmm
Aku memaju mundurkan kontolku ke pantat Rio ,rio pun berusaha menikmati
"rio rasanya nikmat yo"
Oh yeahhhhhh
Kontolku pun aku sodokkan sekali lagi ,maju mundur tepat di pantat rio
hingga dalam,yeahhhhh uhmmmmmm ahh
Mmmmmmmmmmm aku menambah kecepatan menyodok kontolku ke pantatnya
Ia semakin merintih kesakitan
Owhhhh yeahhhhhhhh ohhhhhhh enak yan
Ia semakin memerah mukanya ,akupun semakin menggila
Ku sodokkan kontolku berkali kali
Ia hanya kesakitan owhhhhhhhh yeahhhhhhhh
Owhhhhhhhhh
Tubuhnya yang sexy begitu mempesona ,aku pun menganggapnya ia seorang cewek
Lalu aku berganti posisi kini aku berbaring dan dengan sigap rio paham
dan ia memaju dan turunkan pantatnya
Terlihat ia sangat menikmati kontolku ini
Aku pun menyodoknya lagi kini ia terlihat begitu mempesona ,aku pun
memegang kontolnya dan mengocoknya sambil ia menaik turunkan pantatnya
dari kontolku
Kontolnya terasa begitu hangat aku semakin cepat mengocoknya
Dan ia semakin cepat menaik turunkan pantatnya hingga kontolku mulai
akan keluar
Yooooooooooooo kontolku mau keluar yooooooo
Kamu keluarin aja yang owhhhhhhhhhhh
Yeahhhhhhhhhhhhhhhh owhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Akhirnya aku tak kuasa lagi menahan pejuhku
Crottttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt
Crot
Crotttttttttttttttttttttttt
Owhhhhhhhhhhhh yeahhhhhhhhhhhhhhh mmmmmmmmmmmmmmmmm ohhhhhhh
Aku pun menyodokkan kontolku
Yeahhhhhhhhhh
Fuck yo fucking ass hole
Aku pun akhirnya ngencrettttttttt di pantat rio terasa begitu nikmat
,begitu sempit dan begitu asyikkkkkkk
Yeahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm ,tak beberapa gentian rio yang ngencret karena
kontolnya terus aku kocokkk
Yeahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh yan enak yan mmmmmmmmmmmmmm
Crot
Aku pun melepas kontolku dari pantat riooooooooo
Aku pun menggelepar di samping rio rio pun capek dan demikian pula aku
,aku memandang rio mia meandangiku juga
Aku tak menyangga kami melakukan semua ini
Aku mendekatkan mulutku ke rio
Rio punnnnn menciumku
"yan aku senang dan cinta padamu ,aku rela kau jadikan pelampiasan
nafsumu,maukah kau jadi pacarku yan"
"makasih banyaka yo ya pagi ini aku benar benar puas sekali ini kali
pertama aku ngentot ma kamu"
"I love u" rio pin segera memelukku sehingga kontolkami bergesekkan lagi
"I love u too" aku pun kembali mencium rio
Kami berdua akhirnya tidak jadi berenang
Aku terlanjur tidur bersama rio sampai sore
Sejak saat itu rio menjadi pelampiasaanku
Aku sangat mencintai rio

Friday, May 10, 2013

Polisi Duren Ber kontol Besar

Musim duren tahun ini membuat aku pusing. Gimana nggak pusing? Saking banyaknya yang jual duren di pinggir jalan, dari arah sekolah sampai gang dekat rumahku semuanya bau duren. Walau aku sebenernya suka duren tapi kalau kelamaan mencium udara yang terkontaminasi aroma duren juga nggak enak, tapi malah enek! Untung aku terbantu dengan masker yang sengaja aku bawa untuk mengurangi debu yang masuk ke hidung jadi sedikit berkurang beban hidung mancungku ini. Pokoknya kalau bule-bule lewat jalanan ini pasti mereka muntah deh.
Musim duren memang menjadi berkah tersendiri bagi penjual duren tetapi musim duren kali ini tidak hanya menguntungkan bagi mereka namun juga menjadi berkah tersendiri buatku.Kok bisa ya? Kasih tau nggak yahhhhh???? Hehehehe.. Karena pada cerita kali ini, semua ada hubungannya dengan buah duren dan “duren”,duda keren. Nah lho duda keren toh? Huh… Pantesan. Duren yang aku temui ini bukan sembarang duren. Dia adalah seorang duren dan juga seorang polisi dan yang paling anehnya lagi hubungan kami berawal dari buah duren. I Love Duren!
Aku ingat, hari itu jum’at sore. Aku yang dari tadi main PS sendirian di rumah tiba-tiba dipanggil ibu.
“Bayu… Cepet kemari…”, panggil ibuku dari arah dapur.
Padahal aku lagi asik main game tempur. “Bentar… lagi nanggung nih bu”, tolakku. Aku dengan cekatan menekan-nekan tombol di stik.
“Cepet Bay… Ini ada pesen dari tentemu!”, desak ibu.
Ih… Ibu nggak asik banget sih. Akupun bergegas mendatangi ibu dan langsung mematikan PS beserta TV.
“Ada apa sih Bu?”, tanyaku ketus.
“Tantemu mau dibeliin duren katanya. Tadi telepon ibu. Kamu carikan duren yang enak gih. Ambil uangnya di tas ibu didekat lemari”. Ibu tampak sedang sibuk menyiangi sayur.
Aku dengan agak cemberut bertanya, “Berapa buah bu?”.
“Bawa uang 50. Kalau ada yang 25, beli dua tapi kalau lebih dari dua lima beli satu aja. Kamu cariin yang manis lho Bay. Kamu tau kan gimana ciri-ciri duren yang manis?”.
“Iya, tenang aja”. Dengan masih agak malas aku menuju kamar ibu dan mengambil uang selembar 50 ribuan.
Tanteku itu memang nyebelin banget. Beliau sedang hamil muda dan ngidam. Kenapa nggak suruh suaminya aja yang beliin eh malah aku yang disuruh. Mentang-mentang aku deket sama pedagang duren, dia seenaknya nyuruh mama beliin dia duren. Otomatis kalau mama sibuk aku deh yang musti menuhin permintaannya. Kenapa nggak kesini aja sih, kan aku nggak repot kayak gini.
Aku menghidupkan motor matic-ku lalu bergegas menuju tempat orang jualan duren. Sengaja aku berkeliling kota sebentar supaya nggak cepet balik ke rumah, itung-itung cari angin segerlah.
“Duren-duren-duren… 20 ribu!”, teriak salah seorang pedagang buah dipinggir jalan berusaha menawarkan dagangannya.
Nah, murah tuh. Aku menepi dan turun dari motor.
“Duren dek?”, tanya pria itu.
“Berapaan bang?”.
“20 aja. Manis-manis lho ini. Kami jual murah hari ini soalnya kami mau segera pulang”.
“Boleh pilih nggak?”.
“Boleh. Tentu boleh. Silahkan adek mau yang mana? Semua 20 ribu saja”.
Aku mulai memilih-milih dengan teliti pada duren yang aku yakini bercita rasa manis dan legit. Aku cium-cium buah duren itu dan aku perhatikan setiap tangkainya. Tiba-tiba…
“Permisi mas. Berapaan durennya?”, tanya orang itu pada tukang buah.
“20 aja pak. Manis-manis itu”, jawab tukang buah.
Aku awalnya tidak memperhatikan calon pembeli disampingku ini karena aku masih sibuk dengan mencari-cari duren yang enak.
“Ini kayaknya manis dek”, tegurnya sambil memegang duren didepanku.
Aku menoleh kesumber suara itu. Bruak! Hampir saja aku jatuh kearah tumpukan duren, ternyata orang yang ada disampingku ini adalah seorang polisi berpangkat IPTU dan ku taksir umurnya sekitar 30 tahunan, Kulitnya coklat terbakar, tubuhnya tegap berisi dan senyumnya itu lo yang bikin aku mau ambruk, manis sekali karena dia memiliki bibir yang tipis. Tulisan Panji Arifin tertera jelas di dadanya.
“Memangnya kaya gimana duren yang manis pak?”, tanyaku pura-pura nggak tahu. Sebenarnya itu Cuma modus agar dia mau memilihkan aku duren. Hehehe ;>
“Pertama liat tangkainya, kalau rata berarti itu dipotong sebelum matang. Terus aromanya jelas tercium, bukan samar-samar…”.
Aku nggak memperhatikan ucapannya tapi aku lebih tertarik buat perhatiin cara dia menjelaskan.
“Bapak pilihin aku dong. Takutnya nanti aku salah pilih”, pintaku.
Dengan senang hati dia memilihkan tiga biji duren yang paling baik.
“Punya bapak kok dua saja?”, tanyaku ketika melihat dua buah duren yang dia sisihkan untuk dibelinya.
“Dua aja nggak abis…”.
Dia kembali tersenyum manis. Ini polisi kok cakep banget ya… Andaikan aku bisa kenal lebih jauh dengan dia.
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ketika duren yang ada didepanku sudah cukup meyakinkan. Aku sebenernya ingin menawar 3 buah duren itu dengan harga 50 ribu pada abang tukang buahnya. Kali aja aku berhasil.
“Berapa bang punyaku?”.
“60 dek”.
“3, 50 ya bang?”.
“Nggak bisa dek, itu sudah harga murah lho. Mana ada yang jual duren 20 ribu sekarang”, tolaknya.
“Duren yang inikan kecil bang, jadi 3 biji 50 ya?”, rayuku lagi.
“Maaf dek. 50 dapet dua aja”.
Ini abang pelit banget. Ya sudahlah…
“Adek mau beli 3 biji?”, tanya pak Arif padaku.
“Iya pak, maunya sih begitu tadi tapi nggak bisa ditawar-tawar lagi”.
“Bang, punya saya berapa?”, tanya pak Arif sambil mengangkat dua buah  duren yang sudah terikat tali ditangannya.
“40 pak”.
“Sekalian dengan punya adek ini ya”.
“Yang bener pak? Makasih ya pak”, ucapku senang.
“Iya sama-sama…”.
Aku buru-buru membawa tiga buah duren itu pergi dan manghidupkan motor setelah menyerahkan uangku pada abang penjual buah. Jujur perasaanku saat itu gugup, seneng dan gemetar. Aku takut kebablasan buat memeluk tubuh pak Arif kalau aku telalau lama dekat beliau. Tanpa aku sadar…
Tit-Tit-Tit… suara klakson motor mengagetkanku dari arah belakang. Aku yang sudah memasuki gang menuju rumahku akhirnya menghentikan laju kendaraan dan menoleh. Tampak dibelakangku seorang polisi yang aku yakini sebagai pak Arifin, polisi yang membantuku di tempat pedagang duren tadi, sedang menuju kearahku menggunakan motor gedenya.
“Tunggu dek. Hape-mu jatuh tadi didekat tumpukan duren. Untung saya sempat mengejar kamu”. Dia mengeluarkan hape saya dari kantung celananya dan menyerahkan barang itu padaku.
“Waduh jadi ngerepotin bapak. Makasih ya pak, aku nggak sadar tadi hapeku jatuh. Untung ada bapak...”. aku mengambil hapeku dari tangannya.
Langit memang punya rencana lain. Tibe-tiba saja hujan lebat turun dan kontan saja aku langsung mengajak pak Arif singgah dirumahku. Pak arif menyetujuinya dan setelah sampai didepan rumahku, dia aku persilahkan masuk.
“Duduk dulu pak. Saya mau menaruh duren dulu sebentar”.
“Makasih dek. Iya silahkan”, ucapnya. Baju coklat dan celana coklatnya agak basah karena terkena hujan lebat kemudian dia mulai duduk di kursi tamu.
Tak lama kemudian aku keluar dengan membawakan segelas air teh hangat untuk mengurangi efek dingin pada tubuh berisinya.
“Wah, pakai acara repot-repot segala…”.
“Nggak apa-apa pak. Bapak juga sudah menolong saya tadi. Silahkan diminum tehnya pak, mumpung masih anget”.
Aku duduk disamping pak Arif.
“Oh iya dek, dari tadi kita ngomong tapi bapak belum tau nama kamu”.
Aku menjulurkan tangan dan menjabat tangan pak Arif. “Saya Bayu, pak. Kalau bapak?”.
“Panggil saja saya pak Arif”.
Setelah itu kami ngobrol panjang lebar dan aku baru tahu kalau dia itu seorang duda yang ditinggal istrinya meninggal karena kecelakaan. Walaupun dia duda tetapi dia belum mempunyai anak. Pernikahannya selama enam tahun dengan mendiang istrinya belum juga membuahkan keturunan. Apa mungkin dia mandul? Atau istrinya yang mandul? Wah, pas banget nih aku kenalan dengan “duren”.
Istrinya sudah hampir setahun meninggal dan dia masih belum kepikiran untuk mencari pengganti sang istri karena dia masih merasa sangat kehilangan. Dia tinggal dirumahnya sendirian sehingga aku mengerti kenapa dia bilang makan duren dua biji saja dia tidak habis ternyata dia memang makan duren itu sendiri. Suatu saat aku mau nolongin pak Arif ngabisin durennya.
Dia memberi tahuku alamat rumahnya dan dia mempersilahkan kapan-kapan aku bisa mampir kesana. Kebetulan daerah tempat tinggal rumah pak Arifin, sering aku lewati kalau mau ke pasar bersama ibu.
Hujanpun reda dan beliau berpamitan untuk pulang. Sebenernya aku mau menahan beliau untuk tidur dirumahku tapi apa mungkin? Hahahaha.. Dasar Bayu!
Semenjak saat itu aku sering mencari alasan buat kerumah dia. Entah Cuma lewat atau kebetulan lagi suntuk dan pengen jalan-jalan kerumahnya. Aku ketempat mas Arif ketika sore hari atau saat beliau ada dirumah, malam harinya. Aku dan dia sudah seperti saudara dan dia tidak sungkan untuk membawa kau kekamar ketika aku main kerumahnya. Akupun tidak lagi manggil dia dengan sebutan pak Arif tetapi dengan panggilan manja, mas Arif.
Hubungan kami semakin dekat dan aku menikmati itu. Sampai suatu ketika, aku berkesempatan untuk memancing nafsu birahi mas Arif.
Aku saat itu memiliki alasan yang tepat buat nginap dirumahnya karena dirumahku lagi ada keluarga dan kamarku dipakai untuk tempat tidur sementara mereka. Dia tidak keberatan dan mempersilahkan aku menginap dirumahnya untuk beberapa hari. Kalau kesempatan nggak boleh disia-siakan.
Hari pertama biasa-biasa saja dan tidak ada kejadian apa-apa tetapi hari kedua, barulah terjadi hal yang selama ini aku impi-impikan.
Mas Arif mempercayakan satu buah kunci serep rumahnya padaku. Aku yang baru saja pulang dari ekskul disekolah langsung kerumah Mas Arif. Pintu rumahnya aku buka lalu kemudian aku kunci dari dalam dan aku cabut kuncinya. Kalau dia datang, dia tidak akan tahu jika aku sudah berada didalam. Jam sedang menunjukan pukul setengah enam sore, biasanya mas Arif sudah pulang dari kantornya. Aku mulai bergegas menjalankan rencanaku dan masuk kekamar mandi tanpa menguncinya. Aku lepas seluruh pakaian yang melekat ditubuhku dan mulai berendam di bak mandi. Aku sengaja menarik tirai penyekat bak mandi supaya pas nanti mas Arif masuk dia tidak menyadari kalau aku ada didalamnya.
Dua puluh menit kemudian, rencanaku berjalan mulus. Sesosok tubuh tinggi 176 cm dan berat 70 kg masuk kedalam kamar mandi dan menguncinya. Dia langsung melepas seluruh pakaian yang melekat ditubuh padatnya yang masih terlihat berotot dan langsung menyibak tiraiku.
“Eh ada mas Arif…”. Aku seolah-olah malu dan menutupi kontolku dengan telapak tangan.
“Bayu?! Aku kira kamu belum pulang karena pintu terkunci tadi”.
Nih polisi sengaja apa ya? Dia masih tegap berdiri dengan kontolnya yang masih lemes tergantung dihadapan mataku. Apa dia tidak risih?
“Tadi aku sengaja mas. Soalnya takut ada yang masuk pas aku lagi mandi”. Untung motorku aku taruh disamping rumah, jadi dia nggak ngeliat motorku.
“kalau gitu kamu mandi saja duluan. Mas keluar aja”.
Buru-buru aku mencegahnya. “Nggak perlu mas. Mas mandi aja di shower. Atau aku saja yang di shower dan mas disini. Gimana?”.
Dia berfikir sejenak lalu beranjak menghidupkan shower. Uh, kayaknya rencanaku berjalan mulus kali ini. Sebenarnya kontolku mulai ngaceng jadi aku tak berani menunjukan kontolku di depan mas Arif. Takut dia curiga! Aku kan belum tahu kalau dia suka ama aku atau tidak. Sebagai jaga-jaga saja sih sebenernya.
Entah kenapa tiba-tiba aku menangkap kalau kontol mas Arif juga mulai ngaceng. Mungkin kah dia lagi horny?
“Dek, tolong usapin punggung mas dong”, pintanya.
“Hah? Apa mas?”, aku tersadar dari lamunanku.
“Gosokin punggung mas. Mas nggak nyampe nih”.
Duh, gawat nih. Kontolku udah ngaceng berat lagi. Tapi kalau aku nolak nggak enak juga. Bisa jadi ini adalah kesempatan terakhir didalam hidupku. Aku pun bangkit dan sepertinya mas Arif memperhatikan kontolku yang sudah ngaceng.
“Punya Bayu ngaceng tuh. Pengen pipis ya?”.
“Ermmmppp iya kayaknya mas”, kelitku.
Aku mulai mengambil penggosok tubuh dan menyabuni punggung mas Arif. Setelah selesai menyabuni punggungnya, aku diminta untuk menyabuni dadanya sekalian. Mas Arif membalikan badan dan menghadap kearahku. Dug! Ya ampun… Kontolnya gede amat…. Ngaceng lagi. Pantesan dia memunggungi aku dari tadi. Kontolnya yang panjang  mulai menyentuh pusarku sehingga menimbulkan gesekan-gesekan yang semakin membuat kami ngaceng.  Sengaja atau tidak sebenarnya aku menikmati gesekan kontol besar dan perkasa milik mas Arif.
Aku tahu bahwa dia sudah lama tidak menyalurkan hasratnya pada lubang. Tapi apakah dia bener-bener suka cowok? Mungkinkah dia sedang mabuk atau kerasukan setan “Gay”? Arkhhh! Bodo! Aku kemudian menatap mata mas Arif, berusaha mencari arti dari perbuatannya ini dan ketika tatapan mata kami bertemu.
Cup!!! Dia menunduk dan menciumi bibirku dengan lembut. Aku seperti mendapat duren runtuh rasanya. Aku benar-benar tidak menyangka bakalan segampang ini menakhlukan sang duren polisi.
Aku membalas ciumannya sambil tanganku mulai berani mengocok kontol ma Arif. Wuih… Hangat dan gede sekali digenggaman tanaganku… Bibirnya yang tipis memilin bibirku yang merah sensual. Matalu terpejam dan lidahku mengganas untuk bertarung dengan lidah mas Arif. Rasa lembut dan penuh kepasrahan merasuki tubuhku. Aku benar-benar menikmati ciuman Mas Arif. Inilah yang aku suka dari pria yang telah berpengalaman, mereka sangat lihai memperlakukan pasangannya.
Aku mendorong dada bidang mas Arif. “Mas, kita mandi dulu ya. Adek mau kita ngelakuin ini dengan keadaah siap”. Aku ini bodoh atau dungu sih? Kok bisa-bisanya aku menunda hal yang sudah aku inginkan sejak dulu.
“Yah adek…. Mas udah tegang banget nih. Adek harus tanggung jawab ya? Mas udah lama nggak keluar…”, rengeknya sambil berusaha menciumi bibirku kembali.
Aku mengecup bibir mas Arif dan kemudian mandi sampai bersih bersamanya.
Setelah kejadian dikamar mandi, kami sungguh berbeda. Mas Arif mulai lepas dan memperlakukan kau seperti kekasihnya. Di meja makan aku yang duduk di pangkuannya merasakan tonjolan diselangkangan mas Arif menusuk-nusuk pantatku. Kami makan sambil bersuap-suapan dan sesekali berciuman. Mas Arif bener-bener bisa banget bikin aku terklepek-klepek.
Selesai makan dan gosok gigi kami langsung masuk kamar. Motor kami sudah dimasukan dan pintu rumah telah terkunci sempurna padahal jam masih menunjukan pukul delapan.
"Bagaimana dek, mau langsung?" tawar mas Arif.
Pake acara ditanya segala. Aku pikir aku nggak perlu menjawabnya dan lebih baik langsung mendekati mas Arif, kemudian aku mulai mengelus-elus tonjolan di celana bagian depannya
 "Dek… Mas mau dienakin ama kamu. Tapi mas nggak mau ngapa-ngapain kontol kamu. Nggak papa kan?" tanya mas Arif sang TOP sejati
 Aku menjawab hanya dengan anggukan kepala sedangkan tanganku terus mengusap-usap tonjolan kontolnya yang besar itu. Kemudian aku buka baju kaosnya dengan mesra. Aku sangat suka sekali melihat badannya yang tegap dan berisi apalagi saat dia mengangkat tangannya saat aku membuka bajuya, kedua tangannya itu terlihat kekar dan keras sekali dan ketiaknya penuh dengan rimbunnya bulu, jujur aku nggak terlalu suka bulu ketiak yang lebat dan biasanya membuatku agak sebal, tapi wajah ganteng dan dada kekarnya membuat semua itu nggak penting buatku. Dadanya terbentuk meski bukan sepeti binaragawan. Dadanya bidang dan bersih dari rambut dengan kedua pentil yang kecil tapi menonjol dan sekeliling pentilnya tumbuh rambut-rambut. Lalu aku melihat ke pusarnya dan disana banyak di tumbuhi rambut yang aku yakin tumbuh menyemak di pangkal kontolnya.
Aku langsung memegang kedua pentilnya dan pelan-pelan memilin-milinnya, lalu tiba-tiba aku mendengar dia mendengus agak keras.
“Argggghhh Dekkkkk!”. Tampaknya dia sangat suka kalau kedua pentilnya dimainkan dan itu membuatku semakin semangat. Dia kusuruh duduk dipinggir tempat tidur dan aku mulai menjalankan aksiku. Aku menghisap-hisap pentilnya seperti bayi yang sedang menyusu, dan pentilnya semakin menonjol serta kian keras. Dia mulai meracau pelan saat aku menyesapi pentilnya dan semakin keras gumamnya saat ujung pentilnya aku jilati juga dengan ujung lidahku sementara tanganku mengusap-usap dada kekarnya yang sudah terbentuk karena latihan itu.
 Pentil kerasnya kugigit-gigit pelan sambil aku tarik-tarik kemudian aku hisap dengan kuat. Rasa nikmat dan sensasinya luar biasa! Dia terus mendesah dan bergumam keenakan. Lalu tanganku mulai bergerak ke bawah dan mengusap bulu-bulu yang tumbuh disekitar perutnya dan pelan-pelan membuka ikat pinggakancing celananya sambil mulutku terus mengeyot pentilnya. Nampaknya sensasi kenyotanku di pentil dan gerakan tanganku yang membuka celana panjangnya pelan-pelan sampai dia hanya memakai celana dalam saja membuat dia semakin bergairah. Beberapa kali dia dengan sengaja menumbur-numburkan kontolnya yang masih di dalam kolor ke badanku.
Aku berdiri dan melepas semua pakaianku sampai telanjang bulat. Kontolku sudah ngaceng berat dan dia tersenyum melihat keadaanku itu. Cowok sakit mana yang nggak tertarik melihat tubuhku yang sensual ini…
"Gede juga kontol adek." pujinya kemudian.
"Tapi kontol mas lebih besar dari punya adek" kataku.
"Adek suka kan kontol mas yang gede ini?”.
Aku perhatikan dia yang sekarang tidur terlentang dengan celana dalam hitamnya sebentar. Badannya benar-benar luar biasa, sepertinya dia diberi waktu lebih banyak saat dibuat dulu sehingga dia lebih mempesona dari laki-laki kebanyakan.
Kakinya berbulu lebat dan pahanya meski tidak terlalu besar tapi kekar sekali dengan aksen bulu-bulu yang membuat bagian bawah perutnya ini menjadi seksi sekali. Aku berjongkok di lantai, lalu membuka kedua kakinya pelan-pelan hingga terbuka lebar. Seksi sekali melihat pemandangan itu dari sudutku berada. Aku merapatkan kedua kakinya sementara wajahku berada ditengah-tengah kedua pahanya dan menjilat-jilat mulai dari dengkul kirinya dan bergerak pelan ke selangkangannya. Lalu lidahku memutar-mutar di paha bagian dalamnya dan tangan kiriku mengusap-usap paha atasnya yang berbulu itu.
Sampailah ujung lidahku tepat di celana dalamnya bagian bawah. Aroma laki-laki segera tercium olehku. Aku cium-cium pelernya yang masih terbungkus dengan bibirku, aku menggerak-gerakkan bibirku nggak keruan di pelernya. Aku tarik keatas pinggiran celana dalamnya dan menarik satu biji pelernya keluar. Biji pelernya besar dan berbulu lebat, pasti banyak pejuh yang tersimpan disana. Aku membayangkan semprotan pejuhnya pasti banyak kalau pelernya seperti ini, pasti enak dan banyak sekali kalau aku telan pejuh Mas Arif.
Mas arif masih tidur terlentang saat aku mulai mengemoti biji pelernya yang aku keluarkan satu itu. Aku kemot pelan sekali dan bagian bawahnya aku jilati. Kadang aku kesulitan juga karena bulu yang tumbuh di biji pelernya suka rontok dan mengganggu lidahku. Setelah puas aku masukkan lagi biji pelernya itu dan aku melihat dia sedang menggigit ujung bantal, aku yakin dia pasti ngerasa enak sekali.
Dia menatapku saat kedua tanganku memegang pinggiran karet celana dalamnya dan pelan-pelan mulai kuturunkan. Bulu jembutnya tidak terlalu banyak sepertinya dia mencukur jembut itu beberapa hari yang lalu. Tapi kontolnya membuatku sangat kegirangan. Kepala kontolnya yang berwarna merah keunguan sudah menyembul dengan gagahnya dilengkapi ujung lubang kencingnya yang sudah basah!
Aku paling suka kontol seperti milik mas Arif ini dan aku menjadi begitu bergairah.
"Gila gede banget mas," kataku.
"Kenapa, takut ya dek?" tanyanya.
"Aku suka banget mas. Jadi nggak sabar deh". Dan tanpa membuang-buang waktu segera aku menjamah kontolnya yang sudah super ngaceng itu. Kontolnya besar dan panjang banget dengan kepala kontol yang lebih gede dari batangnya sehingga menambah seksi tubuh IPTU Arifin.
Aku gigit-gigit pelan ujung kontolnya lalu turun lagi kearah batang bawah kontolnya dan dia rupanya sangat suka juga dibegitukan. Dia menggigit lagi ujung bantalnya. Lalu giliran batang kontolnya menjadi sasaranku berikut. Aku pegang batang kontolnya dan aku tempelkan diperutnya, lalu lidahku menjalari di seluruh batang kontol bagian bawah sampai aku berhenti di lubang kencingnya dan lidahku kuputar-putar disekitar pinggiran kepala kontol bagian bawahnya itu.
Dia menyentak-nyentaknya kedua kakinya saat aku melakukan jilatan di pinggir kepala kontolnya itu dan sentakannya semakin keras saat ujung lidahku bermain-main menggeliti lobang kencingnya yang terus menerus ngeluarin cairan bening. Wajahnya terlihat merah dan terlihat berkerut seperti menahan sesuatu yang luar biasa. Dia bangun dan gerakan tangannya menyuruhku berhenti. Badannya kini terlihat memerah dibagian atas dan dia tersengal-sengal mengatur nafas sambil sesekali menggelengkan kepalanya.
"Kenapa mas. Mas nggak suka ya?".
Dia menatapku, "Mas hampir keluar tadi. Adek lihai bangetsih, semua yang mas pengen tadi kamu lakuin" ujarnya.
Aku tersenyum senang.
"Mas entot kamu sekarang aja ya?"
"Tapi kontol mas kan belum adek isep”.
 "Nggak perlu dek, mas udah nggak kuat. Nanti mas keburu muncrat, mas mau ngerasain ngentot cowok nih."
Aku setuju dan tadinya dia mau cari-cari sesuatu buat ngebasahin batang kontolnya.
"Nggak usah mas, sini adek jilat aja. Aku suka dientot kering aja, soalnya gesekan batang kontolnya berasa banget."
"Nanti adek sakit lagi", kata mas Arif.
"Nggak ko mas. Mas tenang aja. Aku suka kok, malahan enak banget." ujarku menyakinkannya.
Dia mengangkat kedua bahunya tanda terserah padaku.
"Mau posisi bagaimana mas?" tanyaku.
"Enaknya adek gimana?" dia balik bertanya.
"Mas pernah ngentot posisi mas di bawah nggak?"
Dia menggeleng.
"Ya udah kita coba gaya itu aja. Ya mas… Biar mas tahu gaya ini enak banget", rayuku.
 Dia merebahkan kepalanya di kasur dan aku mengangkangi kontolnya. Aku turun pelan-pelan dan saat ujung kepala kontolnya yang aku pegangin itu menyentuh lobang anusku aku berhenti sebentar untuk menarik nafas, ini sesuatu yang paling aku tunggu. Dia menatap ke arah kontolnya dan aku pelan-pelan memasukkan kepala kontolnya sedikit demi sedikit. Aku meringis dan menggigit bibir bawahku saat kepala kontolnya yang besar itu mulai masuk setengahnya. Lobangku mulai terbuka sangat lebar, karena kepala kontolnya salah satu yang paling besar yang pernah masuk ke lobang anusku.
Aku meringis dan mengeluarkan suara tanda aku sedikit kesakitan karena memang kontolnya masuk dalam keadaan kering tanpa pelumas. dan PLOPP...!!! masuklah semua kepala kontolnya dan aku mendesah lega. Saat aku membuka mata dia sedang menatapku dengan muka yang mengernyit seperti merasakan sesuatu yang aneh.
"Sakit yadek?" tanyanya.
"Nggakk.. hhh ... enakkkk. Mashhhh Uhhhhh" Aku mulai menaik turunkan pantatku dan dia terlihat mulai menikmatinya, terbukti dia mulai semakin banyak menggeram. Bahkan setelah beberapa lama ketika aku menaikkan pantatku dia menghujamkan batang kontolnya ke atas pertanda dia ingin terus mengocok lobang pantatku.
“Ah ah ah ah ahhhhh uhhhh enak dekkhhh uhhhh pantat muh uenak bangettttt!”.
 Aku istirahat sejenak di atas perutnya dan menggeol-geolkan pantatku untuk memutar-mutar batang kontolnya dan dia menggeram keras lalu dengan sekuat tenaga menghujam-hujamkan kontolnya sampai aku hampir jatuh. Melihat dia semakin ganas, aku memutuskan berganti gaya yang biasa. Posisi aku dibawah dengan memberikan bantal tipis dipantat biar lobang pantatku agak naik dan memberikannya kesempatan mengentot lobangku sekuat yang dia bisa.
Kedua kakiku kutekuk dan dia membimbing batang kontolnya masuk kembali ke lobang pantatku lalu menekannya kuat. Aku mengeluarkan suara seperti hendak buang hajat saat dia memasukkan batang kontolnya, rasanya sakit sekali karena dia memasukkannya dengan paksa dan sekuat tenaga. Dia sepertinya kesetanan dan menjadi buas sekali. Tanpa memberiku kesempatan untuk mengatur nafas, dia mulai memompa lobang pantatku sekuat tenaga. Mukanya mengernyit menahan enak dengan suara geraman dia pompa lobang pantatku dengan batang kontolnya dalam tempo yang sangat cepat.
Posisi seperti ini membuatku sangat nyaman, batang kontolnya yang panjang membuat ujung kontolnya dengan mudah menyentuh sesuatu di dalam lobang pantatku yang membuatku merasa begitu keenakan. Wajahnya memerah serta keringat menetes banyak sekali dan dia menggeram keras sambil terus mengentotin pantatku tanpa henti. Sensasinya luar biasa dan dia sudah begitu kesetanan dengan liarnya ngentotku sampai tempat tidurnya berderit-derit.
Nggak banyak gaya yang bisa aku buat karena dia sudah begitu liar, tapi itu nggak penting karena aku sudah merasa enak. Semakin lama erangannya semakin keras dan mulutnya terbuka lebar serta tusukan kontolnya semakin kuat, pantatku dipukul-pukul oleh pelernya. Aku sudah nggak tahan lagi, apalagi saat melihat ekspresi muka gantengnya yang keras itu saat mengentotku liar dan menahan enak membuatku ... CROTT ... CROTTTTT... CROOTTTT... Pejuhku tumpah ruah keseluruh badanku dan ke kasur, banyak sekali. Ini pasti pejuh terbanyak yang pernah aku semprotkan.
"Keluarin dimuka adek aja mas." kataku saat melihat dia semakin terengah-engah.
Dia menarik batang kontolnya dan mengarahkan dimukaku. "ARGHHHHHH ... Shhhtttt ahhhh Arggghhh!" geramnya sambil memukul-mukulkan batang kontolnya di wajahku, sakit tapi enak sekali. Lalu ... kembali CROTTTTTTTT ...CROTTT...CROTTT....CROTTTTTTTT Semburan panas keluar dari lobang kencingnya membasahi seluruh wajahku. Dia teriak keenakan meski suaranya ditahan biar tidak didengar orang. Seperti juga aku, pejuhnya bahkan beberapa kali lebih banyak menyemprot dari pada pejuhku.
Dia selesai menyemprotkan pejuhnya dan mengatur nafas. Aku memegang batang kontolnya dan menjilati sisa pejuh yang masih mengalir dari lobangnya. Kadang aku poleskan ke seluruh pipi dan bibirku jika masih ada sisa pejuhnya yang meleleh. Dia kemudian bangun dan duduk selonjor di kursi plastik, dan kedua kakinya terbentanglebar di atas kasur membuat pemandangan yang indah buatku.
"Gimana mas enak kan?" tanyaku.
"Enak banget dek. Makasih ya sayang" Dia terdiam kecapean begitu juga denganku.
"Nanti kita ngentot lagi yah, malam ini mas mau puasin sama adek" katanya.
Aku tersenyum dan mengangguk senang. Akhirnya malam ini aku akan dientot abis-abisan oleh mas Arif…